Dipalak Banci


Hal yang paling Saya hindari ketika berada di Bogor ini adalah berjalan seorang diri ketika malam hari. Kalau ketemu setan di malam hari mungkin hal yang biasa, namun yang luar biasa (menurut Saya) dan paling Saya takuti dari kesemuanya adalah bertemu Banci. Banci merupakan makhluk nomer satu yang paling Saya takuti di muka bumi ini, nomer duanya: pocong. Dan Sayangnya, di kota Bogor ini dengan mudahnya mereka bisa kita jumpai di pinggir jalan ketika malam menjelang. Saya berharap agar tidak pernah berpapasan lagi dengan mereka ketika jalan. Bukannya Saya benci dan tidak menghormati hak mereka atas jalan yang mereka pilih (dengan menjadi seorang Banci), namun yang Sangat mengganggu Saya adalah perilaku mereka. Saya berkata demikian bukannya tanpa alasan. Ada beberapa pengalaman yang kurang menyenangkan ketika berada di dekat mereka.

Pernah suatu malam ketika Saya pulang ke Bogor, pada saat itu Saya masih bekerja di Bandung, Saya memutuskan jalan dari arah Matahari (depan Taman Topi) menuju Jalan Pengadilan untuk naik angkot di sana karena hanya angkot yang melintas di Jalan Pengadilan saja yang jalur trayeknya melintas tepat di Jalan menuju rumah Saya. Di tengah perjalanan tepatnya di pinggir masjid Agung Ps. Anyar, dari kejauhan Saya melihat sesosok wanita berpenampilan menarik dengan tangan kanannya memegang peralatan yang Saya juga tidak tahu apa ( tapi yang jelas alat itu berupa tape yang biasanya digunakan untuk mengamen). Untungnya akal sehat masih bekerja, saat itu Saya berfikir mana mungkin ada seorang wanita dengan pakaian wah seperti itu berkeliaran di malam hari untuk mengamen. Saya menebak-nebak dalam hati, sosok yang Saya lihat tersebut kalau bukan sundel bolong pasti kuntilanak. Namun setelah dicermati dengan seksama, dia bukan sundel bolong karena punggungnya tidak bolong dan dia juga bukan kuntilanak karena kakinya masih menginjak tanah. Lantas siapakah dia?

Saya pun terperanjat ketika melihat lengannya yang agak kekar untuk ukuran seorang wanita. Dari situ Saya sadar, dia Banci! Dengan jantung yang berdegup kencang, Saya memacu kaki Saya untuk berjalan lebih cepat lagi. Saya berbelok dan mengambil jalan alternatif. Setelah sekian menit berjalan Saya lolos dari jangkauan dia, dan tiba di jalan Pengadilan. Dikarenakan perut yang kosong alias lapar dan didukung pula oleh banyaknya tukang dagang di sekitar situ, akhirnya Saya pun memutuskan untuk rehat sejenak dan memesan makan di warung nasi goreng. Menunggu memang merupakan aktifitas yang agak membosankan, maka dari itu Saya menyiasatinya dengan sambil mendengarkan musik. Dan setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang Saya pesan sudah jadi.

Pegawai nasi goreng tersebut menghampiri meja Saya dengan membawa pesanan. Namun ketika si pegawai itu telah tiba di meja Saya dan hendak menyajikan makanan yang Saya pesan, dari arah belakang tiba-tiba Saya mendengar musik yang keras sekali, sekonyong-konyong muncul sosok wanita bertangan kekar menghadang. Aroma alkohol menyeruak ketika dia muncul. Celaka dua belas, dia sedang mabuk! Belum sempat makanan yang dipesan itu disajikan ke atas meja, banci sialan itu mengambil kerupuk dan tomat yang ada di bagian atasnya dan memakannya sambil tangannya yang lain memberi kode untuk Saya segera memberinya uang. Dengan perasaan yang takut bercampur kaget dan masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi (karena kejadiannya sendiri pun sangat cepat), spontan Saya mengeluarkan uang dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada dia karena khawatir si Banci tersebut ngamuk dan mengeluarkan jurus dewa mabuk kalau tuntutannya tidak dipenuhi. Setelah sukses memalak Saya, Banci sialan itu pergi. Beberapa menit Setelah kejadian itu, adrenalin terasa terpacu kencang sekali, rasanya sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari berjalan di atas jembatan penyeberangan terminal Baranangsiang.

Pengalaman dipalak Banci merupakan yang pertama dan sayangnya bukan yang terakhir. Kejadian yang sama pernah terulang beberapa kali namun berbeda cara, tempat, dan pelakunya.

— TAMAT(?) —

Iklan

8 respons untuk ‘Dipalak Banci

  1. wah hal kaya gini nih yang perlu diluruskan.. udah baik menjadi kodratnya saja.. knp perlu melawan kodrat yang sudah ada… ini contoh nyata manusia yang hilang kesadaran karea mengejar harta…. ^_^ tapi klo gw yang dikejar banci gw timpuk tuh pake kulit pisang biar kepeleset

  2. Pernah dipalak banci, sampai dipaksa telanjang dan dihisap.
    Di bandung ada satu daerah pertokoan yang kalau malam itu sepi sekali, dan banyak gang kecil, disana banyak banci mangkal, gw kalau pulang kerja lewat sana lebih dekat ke rumah, karena kerja sering lembur dan kalau malam itu capek sekali, mau tidak mau lewat sana, aslinya ane jijik dan anti sama waria/bencong, mereka orang “sakit jiwa”, ngga jauh beda sama psikopat!

    Suatu waktu motor gw dicegat, mungkin ada sekitar 8 waria, mereka mengambil dompet, dan mengambil uangnya, mengambil rokok, untung HP, motor, dan surat berharga tidak diambil. Asli bro mereka tuh badan kuli dan tenaga kuli, kuat banget kalau lagi banyakan apalagi. Dari sana udah ngga pernah lewat sana lagi kalau malam, sampai beberapa tahun lah, lalu waktu lewat sana lagi beberapa kali, kena lagi, gw dibawa ke gang kecil terus dipaksa ciuman, terus dihisap sambil 2 orang nahan tangan dan badan gw.

    Mereka itu kaum yang harus diberantas kalau menurut gw, kaum orang aneh dengan gangguan jiwa.

    Ngga perduli banyak yang bilang kalau tidak semuanya begitu, gw orang yang realistis, gw percaya dengan apa yang gw alami dan tidak perduli kata orang lain, pokoknya waria itu makhluk yang harus diberantas.

Isikan komentar:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s