Pusat Alam Semesta


Tentunya, bayi juga merasakan bahwa mereka adalah pusat alam semesta. Sungguh, selama masa kecilnya, mereka merupakan pusat perhatian.

Ketika bayi-bayi itu menangsi dengan segera seseorang bergegas lari menghampirinya. Mereka mengoceh dan semua orang tersenyum kepadanya. Mereka bermain dengan bonekanya dan orang bergegas memotretnya. Semua orang menyukainya.

Ini merupakan tahap “megalomania kekanak-kanakan”, perasaan di mana bayi merasa bahwa orang di sekelilingnya semuanya kuat –yang, terkesan mereka berasa dalam periode benar-benar tidak berdaya. Bayi dirawat, dininabobokan dan dilayani. Semua keinginannya dipenuhi.

Namun yang mengejutkan mereka adalah ketika anak-anak tersebut mengetahui keadaan penuh kenikmatan ini tidaklah berlangsung selamanya. Tidak lama berselang orang tua bayi ini menginginkannya untuk bisa belajar berjalan, berbicara, berak dan kencing di toilet. (“Apa yang mereka lakukan terhadap Saya dengan benda itu!”) Hari demi hari muncul tuntutan baru dari orang tua dan orang-orang  di sekitarnya; tidak lama kemudian anak-anak belajar satu ketrampilan baru yang diikuti dengan penguasaan ketrampilan lainnya. Dunia penuh dengan kata-kata “tidak” dan bergaung dengan seruan, “Janganlah sentuh benda itu”.

Apa yang terjadi pada masa yang menyenangkan dulu, di mana mereka bisa melakukan apa saja dan tidak ada tuntutan yang dibebankan kepada mereka? Ketika itu merasa terus dimanjakan. Sekarang tangan mereka ditampar ketika mereka menyentuh sesuatu yang terlarang bagi mereka untuk memegangnya. Atau orang di sekitarnya cemberut dan berteriak kepada mereka. Alangkah mengecewakannya dunia ini! Mereka dihadapkan dengan banyak kenyataan, fakta, dan harapan serta tuntutan yang tidak ada henti-hentinya sampai mereka tingginya hampir enam kaki.

Tidak terelakkan lagi bahwa anak-anak tersebut berpikir “Mengapa harus terjadi perubahan drastis ini? Saya mendapatkan cinta dan pemujaan orang tua yang luar biasa. Namun tiba-tiba kesenangan itu semua sirna. Orang tua membingungkan Saya dengan keinginan dan larangannya. Sekarang mereka ingin Saya masuk TK, kemudian pergi ke sekolah. Saya harus patuh kepada semua orang dan melakukan hal-hal yang tidak ingin Saya kerjakan. Mereka mengganggu permainan Saya. Saya berada di Taman Surga dan Saya dikeluarkan begitu saja dari sana”.

Iklan

Isikan komentar:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s