Apakah Berbohong Demi Kebaikan Bisa Dibenarkan?


Banyak orang akan bersikeras bahwa mereka tidak pernah berbohong atau hanya berbohong pada peristiwa-peristiwa tertentu yang sangat jarang terjadi. Kebanyakan orang akan mengakui terkadang melakukan “kebohongan demi kebaikan” yang tidak berdosa. Namun ahli psikologi Jerald Hellison memperkirakan bahwa rata-rata orang Amerika berbohong dua puluh kali per harinya, termasuk berbohong demi kebaikan serta permintaan maafnya seperti, “Maaf saya terlambat. Saya mengalami kemacetan pada saat menuju ke kantor.”

Apa yang Anda lakukan ketika Anda telah dijamu dengan makanan biasa (atau bahkan tidak bisa Anda nikmati) dan terpaksa harus mengatakan sesuatu pada saat pulang? Bisakah Anda melupakan dengan menyerukan bahwa “malam itu begitu indah”, meskipun ada suara berisik dari kamar tidaur anak-anak dan kucing yang berkeliaran meminta sisa makanan selama Anda makan.

Setelah melihat bayi untuk pertama kalinya, biasalah untuk menyeru, “Alangkah cantinya bayinya!” Namun apa yang bisa Anda katakana ketika, sebagaimana kadang-kadang terjadi, bayinya tidak sangat cantik/tampan? (Bagaimana dengan, “Cantik sekali! Anda ttentunya sangat bahagia.”)

Apa yang Anda katakana ketika Anda membesuk seorang teman di rumah sakit  yang benar-benar dalam keadaan sekarat atau setidak-tidaknya terlihat sakit parah?

Kalau rumah Anda disatroni preman, haruskah Anda berkata, “Suami saya di atas dan tidak ada uang di rumah ini”?

Kadang-kadang para dokter memberikan obat pengganti (pil pemanis) dalam proyek-proyek riset, dengan memberitahukan kepada subyek enelitian bahwa mereka sedang memberikan obat yang sangat manjur. Apakah kebohongan semacam ini bisa dibenarkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan?

Dalam ratusan situasi kehidupan sehari-hari, benar-benar jujur akan bisa menghasilkan bencana. Namun, dalam hal ini ada dua akibat dari kebiasaan untuk banyak berbohong. Satu konsekuensinya adalah kemungkinan merugikan seseorang dengan memberikan pengakuan yang tidak benar. Konsekuensi kedua adalah kerugian besar yang dilakukan terhadap kepribadian seseorang yang terus melakukan kebohongan.

Saya tahu beberapa orang yang mempunyai penyakit suka berbohong. Yaitu, mereka telah begitu seringnya berbohong sehingga mereka tidak bisa membedakan antara kebenaran dengan kekeliruan. Hukuman bagi pendusta adalah bahwa mereka mempercayai kebohongan mereka sendiri. Beberapa orang bahkan berbohong ketika ternyata akan menguntungkan mereka kalau saja mereka mau berbicara dengan jujur.

Iklan

2 thoughts on “Apakah Berbohong Demi Kebaikan Bisa Dibenarkan?

Isikan komentar:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s